lagi, tentang ibu

August 16, 2007 at 3:41 am 8 comments

Saya hanya bisa diam dengan mata gerimis. Menyaksikan tubuhnya berbaring di kamar ICU pasca operasi. Rabbi, ketentuan-Mu memang terkadang sulit untuk ditebak. Tubuh yang biasanya selalu saya saksikan (di rumah di sinjai sana) tiap pagi setelah sholat subuh dengan lincah menyiram bunga dan menyiangi rumput yang tumbuh di pekarangan depan, atau sore hari selalu tersenyum di teras menyaksikan cucunya berlari-lari dan bermain air di bawah pohon mangga, kini tenang dengan mata terpejam. Hanya gerakan turun naik dari dadanya dengan nafas teraturnya yang kutemui magrib itu, kala izin membesuk masih tersisa 15 menit.

Terbayang ketegarannya di hari-hari lalu. Berjuang dan membesarkan kami, anak-anaknya. Hampir tak pernah kudengar keluhan dari bibirnya, yang ada hanya doa dan pengharapan pada Sang Maha Kudus di tiap rakaat sujud panjangnya. Doa akan keberhasilan dunia akhirat, dan harapan agar bermanfaat hidup dan kehidupan kami di semesta jagad ini. Senyumnya selalu mampu menetralisir kelelahan yang menghinggapi jasad, tiap kali menyambut kami pulang dari sekolah. Atau ketika kami mengetuk pintu rumah dengan ucapan salam kala kami pulang kampung ketika putaran waktu membawa kami menapaki jenjang universitas.

Selalu dan selalu. Makanan hasil masakan tangannya dan kue-kue bugis yang hampir tak pernah kosong mengisi lemari es di rumah kami tak pernah mampu tergantikan dengan fast food dan aneka kue yang namanya sendiri kadang tidak mampu kulafadzkan dengan baik yang sesekali kunikmati di keramaian kota makassar ini. Pun, sampai terakhir kalinya aku pulang kampung, masih saja ia dengan sabar menyelimuti tubuhku dengan selimut yang selalu tertidur di depan TV hingga larut malam. Tak pernah alfa, teguran lembutnya kala adzan sudah mengalun sementara aku masih meringkuk atau bermalas-malasan dengan laptopku.

Sekitar pukul 16, ketika kesadaran mulai menghampirinya karena pengaruh obat biusnya mulai berkurang sejak pukul 10 pagi tadi, ia berkata lemah setelah melirik jam dinding yang ada di sampingnya. ‘Mauka (saya mau) sholat dhuhur sama ashar dulu. Belumpa (saya belum) sholat dari tadi’. ‘Kapan operasinya kah? Kenapa belum mulai-mulai?’. Masih dengan mata kaca, kami tersenyum. ‘Mi…operasinya sudah selesai. Sekarang lagi di ruang ICU. Istirahat meki saja.

Ah, engkau makin membuatku kagum. Bahkan ketika kesadaranmu belum 100% pulih, hal pertama yang kau ingat adalah sholat. Seolah mengajari ulang diriku, yang kadang-kadang masih saja susah beranjak dari depan laptop kecuali panggilan iqomah sudah mengalun dari speaker masjid. Bahkan, 10 hari menjagamu di Rumah Sakit, tetap saja pelajaran-pelajaran kehidupan engkau perlihatkan kepadaku. Tentang kedisiplinan, semangat, baik sangka, kesabaran, sosialisasi dan …dan…dan…lainnya.

Sungguh, jenjang pendidikanku memang lebih tinggi darimu yang tak satupun titel mengiringi namamu. Tapi, pelajaran yang kau tanamkan tak pernah kudapatkan di setiap jenjang sekolah dan universitas yang telah mencatatkan namaku sebagai bagian dari alumni mereka.

Terima kasih, ummi.

Advertisements

Entry filed under: sisi lain tentang cinta.

[sepenggal asa] tentang sebuah lakon hidup Karena IA begitu INDAH …

8 Comments Add your own

  • 1. Tigger  |  August 16, 2007 at 11:06 am

    semoga ummi-nya ilo lekas sembuh y.. sosok seorang ibu memang selalu punya tempat yang istimewa.. hiks, jadi kangen sama ibu nih.. 😦

    Reply
  • 2. muhammad nawir gani  |  August 20, 2007 at 10:09 am

    Subhanallah….
    smoga kondisi ummi ta’ cepak pulih seperti sedia kala

    jadi rindu ka’ juga ma ummi ku…

    Reply
  • 3. deen  |  August 20, 2007 at 10:25 am

    klo bicara soal sosok Ibu,slalu speechless euy..
    Sang Pelahir Peradaban..

    Reply
  • 4. deen  |  August 20, 2007 at 10:25 am

    klo bicara soal sosok Ibu,slalu speechless euy..
    Sang Pelahir Peradaban..

    Reply
  • 5. nuni  |  August 21, 2007 at 12:21 am

    Syafakillah buat ibunda tercinta..

    Reply
  • 6. Auliah  |  August 25, 2007 at 9:26 am

    Semoga Ummita’ cepat sembuh Bro….

    Hiks..jadi ingat ka bunda dialam sana..

    Bro..banyak hal mo kutulis tapi blogku belom bagus jadi….
    *bukan ji menagih janji gang..*

    Reply
  • 7. rusle  |  August 27, 2007 at 8:23 am

    saya menangis betul baca postinganta….

    thanks….

    Reply
  • 8. Anisa  |  September 6, 2007 at 1:01 am

    Subhanallah, hal pertama yg diingat adalah Sholat.Mungkinkah saya bisa melakukan hal seperti itu…?
    Mudah2an uminya dah kembali sehat.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

August 2007
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives


%d bloggers like this: