jangan kau bunuh hatimu

May 8, 2007 at 4:31 pm 6 comments

Siapakah yang bisa berdamai dengan perasaan? Kita hanyalah makhluk lemah yang dititipi amanah memakmurkan bumi di bawah aturan-Nya. Namun di balik kelemahan itu, ada satu anasir hidup, yang menjadikan kita manusia menjadi sebaik-baik makhluk. Anasir itu bernama hati, yang membuat kita bisa mengekspresikan beragam perasaan.

Dengan hati, kita bisa menangis ketika bersedih. Tertawa kala gembira, marah saat terganggu, dan berbagai bentukan ungkapan lainnya. Semuanya dari hati, yang menggerakkan perasaan untuk mengakumulasikan semua.

Hati, yang membuat seorang ibu rela tidak tidur untuk menjaga buah hatinya. Tanpa peduli kelelahan menggelayut berat di pelupuk mata. Ia pula yang memberikan semangat kepada tiap ayah untuk memeras keringat memenuhi semua kebutuhan keluarganya tanpa menghiraukan beban letih di kedua pundaknya. Begitu dalam makna cinta dan keajaiban yang terkandung dalam hati.

Dengan hati, warna indah dunia terlukis dalam makna cinta, kasih sayang dan perhatian. Dengan hati pula, kebencian, dendam dan angkara murka menghitamkan sejarah jernih kemanusiaan. Meskipun untuk yang terakhir ini, merupakan indikator sakitnya atau bahkan kematian sebuah hati. Begitu misterius cara kerjanya.

Maka jangan pernah membunuh hatimu. Sebab, keberadaannyalah yang membuat nilai kemanusiaan kita berada di puncak keagungan. Sucikan, bersihkan dari semua noda yang dapat mengotori kemurnian niat dan kebeningan pancarannya.

Jika engkau tidak lagi memiliki perasaan untuk semua hal yang terjadi di depan matamu, lihatlah hatimu. Dan jika ia telah terlanjur membatu, mintalah pada Allah agar melembutkannya’.

Advertisements

Entry filed under: kontemplasi.

pencarian [edisi resah] sebuah pertanyaan hidup

6 Comments Add your own

  • 1. CempLuk  |  May 9, 2007 at 3:43 pm

    hati yang bersih akan peka terhadap lingkungan sekitar. tak lagi ada prasangka buruk jika hati kita bersih,tapi utk menjadikan hati yg bersih tidak mudah..perlu komitmen dan mendekatkan diri kepada nya

    Reply
  • 2. RhoMayda  |  May 9, 2007 at 9:25 pm

    ada sih, saat-saat di mana seseorang ngga lagi peka. susah ngerasa kanan-kiri, ngga peduli, susah tersentuh, kaku gitu deh. tapi sepertinya, ada batasnya. suatu saat seperti dipukul keras gitu “dhukk! rasain tuh!”
    nah, seketika juga seperti sadar, “hmm… kapan terakhir kali aku nangis ya?”
    gitu kan ya? kadang orang bisa lupa. tapi sering kali, hati yang benar, kalau sudah terlalu jauh, akan diingatkan 🙂

    Reply
  • 3. deen  |  May 10, 2007 at 9:20 am

    deen komen apa ya?.. hemm../*elus2 dagu..
    hemm, apa ya?../*liat langit dari sis i jendela..
    apa bagus di’?../*garuk2 kepala..
    hemm…../*cari2 ide, tulis2 meja pke jari

    waaah..nd ada komenku k :D… yg penting ada ji ilmu yg se dpt dari tulisanta’ ini..:)

    Reply
  • 4. Anisa  |  May 10, 2007 at 1:23 pm

    Setuju…setitik noda dapat mengotori kesucian yang telah ada.
    Makasih ya dah mengingatkan…

    Reply
  • 5. Tigger  |  May 14, 2007 at 1:54 am

    lembutkanlah hatiku.. ya Allah..
    belakangan ini, agak bermasalah nih lo.. doain aja ya..

    Reply
  • 6. | fad |  |  May 18, 2007 at 8:31 am

    hmm.. komennya: “subhanallah” aja deh.. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives


%d bloggers like this: