[sepenggal fragmen hidup] tentang universitas kehidupan*

March 28, 2007 at 12:43 pm Leave a comment

Fragmen 12

Belajarlah membaca dengan hati, bukan dengan pikiran’ kalimat pembuka yang kau ucapkan pagi itu, saat mengajakku ke pinggiran kota. Di deretan rumah-rumah kardus yang saling berdempetan tanpa bentuk. Kumuh, sumpek, hampir tak menyisakan sejengkalpun lorong udara untuk sekedar bernafas dengan lega. Selokan berair hitam yang penuh sampah, mengalir. Menahan nafas sambil berjalan, tetap saja aroma busuk yang menguar memenuhi rongga paru-paru. Aku mual.

Tidak terbiasa ya?’ tanyamu. Aku mengangguk. Tak kuasa membuka mulut. Sambil menengadah ke langit, kau berucap pelan ‘jalan lain masih terbuka untukmu’. ‘Tidak…tidak…aku harus bertahan’. Tekad ini harus menyatu dalam aliran darahku.


Senja mulai memerah di ujung barat. Dalam senyum, kau kembali bertanya ‘Masihkah hatimu membatu melihat sebagian realitas negerimu yang seperti ini?


Fragmen 13

Udara konflik masih membumbung tinggi. Mengangkasa, seiring dengan asap hitam tebal yang meninggi. Meninggalkan bara jejak api dengan segala keangkuhannya. Anyir darah menggantikan kesegaran udara pagi. Tak ada tawa riang dan kegembiraan anak-anak yang berlari berkejaran di lapangan dan tepian sungai. Toleransi dan kasih sayang tercetak tak berdaya, dalam lembaran putih kertas buku dan pemanis bibir kala pertemuan.

Kau mengajakku ke sana. Di antara desingan peluru, lemparan tombak dan lesatan anak panah. Refleks, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dan kau melangkah dengan tersenyum. Dari kejauhan, masih kulihat sosokmu memapah mereka yang terluka. Dengan penuh kasih, membelai kepala anak-anak yang menangis ketakutan. Membalut luka dan membersihkan darah yang mengotori tubuh para korban yang tak mengerti mengapa harus mengalami hidup seperti itu.

Sekembalimu dari sana, kau berucap ‘Sejarah, hanya mengenang 2 karakter manusia. PEJUANG atau PECUNDANG


Fragmen 14

Masih ingat jalan lurus yang ujungnya tak kelihatan dari tempatmu berdiri waktu itu?’.

Ya’, jawabku.

Sambil mendesah, kau melanjutkan ‘Jalan itu sangat panjang. Ia tak bisa diukur dari usia yang kita punya. Bahkan, umur satu generasi belum bisa membuat perjalanan ke sana akan berakhir. Sekelilingnya dipenuhi onak duri, sesuatu yang tak sempat kau lihat sebelumnya. Kepayahan, peluh, air mata bahkan darah akan menjadi harga mati bagi yang melaluinya. Namun, kebahagiaan sejati ada di sana.

Apa yang harus aku lakukan jika aku tetap memilihnya?

Belajarlah bertahan. Dengarkan selalu suara nuranimu. Jangan menyerah. Sebab, perjuangan baru akan bernilai dengan tekad yang tak pernah padam.

—oOo—

‘Bukan POTENSI, namun PILIHAN yang membuat setiap orang berbeda’

*inspired from ‘dia’ yang besok akan MILAD. Saat semangat perlawananku kembali membara.

Advertisements

Entry filed under: sisi lain tentang cinta.

[sepenggal fragmen hidup] tentang cinta yang memilih* [sepenggal fragmen hidup] tentang mimpi yang tak padam*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives


%d bloggers like this: