[sepenggal fragmen hidup] tentang sesuatu yang tercabik*

March 26, 2007 at 3:29 pm 4 comments

Fragmen 8


Resah. Perasaan itu masih saja setia mengikutiku. Tetap sama seperti yang dulu. Seperti saat kusaksikan ribuan TKI harus jadi kuli di negeri sendiri. Saat ratusan anak harus menderita lumpuh layu dan gizi buruk. Saat para ibu harus mengemis demi sebotol susu untuk buah hati dan sepiring nasi untuk keluarganya. Saat anak usia sekolah harus mengalahkan deru mesin kendaran di tiap perempatan lampu merah, menadahkan tangan untuk sekeping rupiah.

Sedih. Kosa kata inipun masih susah beranjak dari pikiranku. Tetap sama seperti yang dulu. Saat beragam bencana datang silih berganti. Saat nurani kemanusiaan bertekuk lutut di bawah tirani kekuasaan dan materi. Saat logika dan moralitas, digadaikan dalam lembaran kertas uang dan prestise semu atas nama status sosial. Saat inteletualitas dihargai dengan deretan huruf dan angka dalam lembaran ijazah dan transkrip nilai.

Geram.sikap hati yang juga masih menari di ruang jiwaku. Tetap sama seperti yang dulu. Saat nyawa manusia tak lebih dihargai dari bangkai busuk binatang liar. Saat ego lebih banyak berbicara dibanding kemurnian nurani. Saat alur anarkisme menjelma budaya di ketenangan pelosok negeri ini.

Maka satu-satunya pilihan rasional adalah dengan BERGERAK! Sebab, DIAM berarti MATI. Bukankah PERUBAHAN hanya bisa terwujud dengan BERGERAK?

Namun, ada yang makin menambah beban ini. Setelah keresahan, kesedihan, dan kegeraman. Ternyata ditambah lagi dengan kebingungan. Bagaimana tidak, kebanyakan kita malah memilih untuk saling menyalahkan. Di mana prinsip kerja sama yang diajarkan orang tua kita dahulu saat kita masih kanak? Ke mana daya juang yang ditanamkan pendahulu kita saat kita mempelajari sejarah mereka? Ke mana nalar berpikir kita disembunyikan, sementara beragam tingkat pendidikan telah kita enyam?

Kawan, sudah cukup banyak air mata ibu pertiwi ini terkuras. Jangan lagi ditambah dengan perpecahan di antara kita, anak-anaknya. Bukankah perbaikan lebih berharga dibanding saling tuding? Tidakkah solusi lebih bermakna dibanding saling curiga? Berdialog, tetulah lebih dewasa dibanding memendam buruk sangka yang akan berpotensi melahirkan fitnah?

Kawan, MERAH-PUTIH itu masih melambai, meski hanya setengah tiang. Ya…meski hanya setengah tiang. Yang dia butuh adalah angin sejuk perubahan untuk mengembalikan kemegahan kibarannya. Yang ia butuhkan adalah tarikan dan dorongan agar kembali ke puncak tiangnya, dan mengangkasa ke seantero dunia. Mengabarkan eksistensinya dengan kumandang ‘INDONESIA BELUM MENYERAH’

Ya, INDONESIA BELUM MENYERAH, selama masih ada pemuda yang resah, sedih, dan geram dengan semua sejarah yang telah diukirnya. Pemuda itu adalah aku, kamu, dia, kita, dan mereka!

*inspired from ‘dia’ yang 3 hari lagi akan MILAD. I LOVE U SO MUCH 🙂

ps: aku yakin, ibu pertiwi akan kembali tersenyum jika melihat kita semua bergandengan tangan 🙂

Advertisements

Entry filed under: sisi lain tentang cinta.

[sepenggal fragmen hidup] tentang srikandi kampus merah [sepenggal fragmen hidup] tentang cinta yang memilih*

4 Comments Add your own

  • 1. Anonymous  |  March 27, 2007 at 9:47 am

    hmm,sepertinya…
    bangsa ini harus belajar saling percaya, bukannya mencari siapa yang benar siapa yang salah

    jadi penasaran…
    kapan bunda akan kembali mengembangkan senyumannya, melihat anak-anaknya (anak-anak negeri)???

    muhammad nawir gani,

    Reply
  • 2. deen  |  March 27, 2007 at 11:45 am

    wah2..k’ilo nyebut2 i love u so much for she/he/it..?sapa y?..harus ada jawabanny nih k’ilo, segera.!..bisa buat prasangka aneh2 loh..hehehe,
    klo dtanya deen termasuk pemuda yg mana?.. ptama deen jawab, deen bukan pemuda tp pemudi..:D, trus kedua, mungkin deen termasuk golongan pemudi yg byk geramny, bgmn tidak, stiap hari slalu melihat fenomena2 kesenjangan yg menyayat hati,duuhh.., bgmn tak geram, jk sang penguasa begtu sulit utk diajak duduk bersama sedang org bawah sudah sedari tadi tiarap rata..
    Deen geram, resah, tp tentu insyaAllah, tak sebatas mengeluh, krn deen sadari, bahwa salah satu perangkat dari negara adalah wajah kita, wajah anak dari ibu pertiwi ini, wajah negara jelas juga wajah k’ilo, deen, and she/he/it.:D, n all definitely.. 🙂
    Yup, emg kita perlu bergandengan tangan demi ibu pertiwi..

    ur sist,

    deen

    Reply
  • 3. Anisa  |  March 28, 2007 at 12:06 pm

    Duh si *Dia* dah akan milad ya…
    sama ….?

    Reply
  • 4. Anisa  |  March 28, 2007 at 12:06 pm

    Duh si *Dia* dah akan milad ya…
    sama ….?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives


%d bloggers like this: