8 tahun 3 bulan [sebuah catatan perbaikan diri]

March 13, 2007 at 9:54 am 5 comments

8 tahun 3 bulan…ya. Sekian lamanya putaran detik telah kulalui sejak terakhir kali kudengar suaranya. Suara yang selalu mengingatkanku akan ketegasan sebuah ideologi. Suara yang penuh dengan keyakinan akan makna perjuangan dan kemandirian. Yang tak mau menyerah pada keadaan, untuk suatu prinsip dan nilai hidup yang telah membentuk karakter jiwanya menjadi seseorang yang tegar.

8 tahun 3 bulan…ya. Sepanjang rentang waktu itu, tak lagi kulihat sosoknya melangkah dengan bantuan tongkat dan baju koko serta kopiah hitam yang jarang lepas dari kepalanya. Sosok yang panas dan hujan tak menyurutkan ayunan kakinya untuk bersegera ke masjid, berpacu dengan suara adzan yang keluar dari speaker tua menara masjid 150 meter dekat rumah.

8 tahun 3 bulan…ya. Selama itu tak kudapati lagi sorot tajam matanya, yang memancarkan kekhawatiran kala melihatku masih saja bergelung di tempat tidur sementara adzan subuh sudah mengalun. Tak kurasakan lagi sakitnya bilah bambu yang ‘mampir’ di kedua betisku saat dia mengetahui belum satupun ayat suci Al-Qur’an kulafadzkan tiap hari . Ataukah saat tak mendapati sosokku berada di barisan shalat berjamaah di masjid. Tak kudengar lagi nasehat tegas dari mulutnya, kala melihatku sedikit enggan membantu ibu ketika beliau meminta tolong.

Aku ingat. Aku ingat semua kemarahannya tiap kali mendapat laporan tentang kenakalanku., tentang kebiasaanku pulang larut ke rumah, atau tentang teman dan lingkungan pergaulanku.
Aku ingat. Malam ketika dia berbincang dengan ibu dan my old brother, dan berkata bahwa aku harus diapakan lagi agar pola sikapku bisa berubah. Bahkan dia hampir yakin, bahwa hanya di pesantren aku bisa menjadi lebih baik dan terarah. Namun mereka berdua meyakinkannya bahwa di manapun, setiap orang bisa berubah menjadi baik. Tidak mutlak harus di pesantren. Di perguruan tinggi negeri pun, ketika ada keinginan dan hidayah, setiap orang bisa menjadi lebih baik dari yang sekarang.

Aku ingat. Bahkan sangat ingat. Saat kemarahan puncaknya mencapai limit. Waktu itu pertama kalinya kutantang menatap matanya yang marah, dan membalas kata-kata nasehatnya dengan argumen dan logikaku. Dan kudapati bening air di sudut matanya. Dan aku juga ingat, saat dia meminta kepada my old brother untuk menjagaku jika waktunya kelak, aku berhasil diterima di perguruan tinggi dan sosokku jauh dari pengawasannya.

Ah…mengingatnya, selalu saja membuat mataku mengembun. Aku paham, semua kemarahan dan kekhawatirannya semata hanyalah tanda cinta kasihnya pada sosokku. Bukan kebencian seperti yang selama ini pernah kuambil sebagai sebuah kesimpulan. Karena satu nasehatnya yang sampai sekarang tak pernah hilang dari memoriku adalah saat ia mengatakan, ‘setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dan saya adalah pemimpin di rumah tangga ini. Saya tidak ingin masuk neraka karena gagal memimpin seorang anak yang sejatinya adalah amanah dari-Nya.’

Bapak…sungguh, kurindukan lagi sosok tegarmu. Kurindukan lagi nasehat-nasehat tegasmu. Kurindukan lagi tajam matamu tiap kali mendidikku. Bahkan sungguh, kurindukan lagi pukulan bambu di betisku, sama seperti dulu saat aku malas menunaikan shalat jamaah, utamanya subuh di masjid. Sungguh, kurindukan semua itu.

Maafkan anakmu, yang baru mengerti sedikit tentang makna cinta dan kasih sayang. Maafkan anakmu yang pernah berburuk sangka dengan semua tindakanmu. Maafkan anakmu yang belum juga sempurna mengabdi di jalan ideologi yang kau ajarkan. Maafkan anakmu yang terlambat mengetahui makna hidup yang kau ajarkan. Maafkan anakmu yang sangat minim baktinya pada keikhlasanmu…Maafkan.

Allah, ampunkan beliau. Sejahterakan dengan nikmat-Mu. Yang tak pernah pudar di telan masa. Lapangkan alam kuburnya. Terangilah dengan cahaya-Mu. Hindarkan dari fitnah kubur. Terimalah semua amal ibadahnya. Masukkanlah ke dalam syurga-Mu.
Berikan kesempatan lagi padaku, untuk mendatangi kuburannya. Duduk bersimpuh di depannya. Memohon maafnya. Kabulkan ya…Rabb.

ps :
– to teman-teman kampus : thanks untuk bimbingannya. Nilai yang kalian semua ajarkan telah mempengaruhi banyak untuk diriku yang sekarang. Semoga bernilai pahala di sisi-Nya
– to deen, mellow lagi yak? ^_^

Advertisements

Entry filed under: sisi lain tentang cinta.

sebingkai cintaku Heart of The Sword

5 Comments Add your own

  • 1. Anonymous  |  March 13, 2007 at 12:00 pm

    seorang penulis bagiku, dinyatakan berhasil jika ia mampu membuai pembaca dan membawa pembaca terbuai oleh isi tulisannya. dan sekali lagi… saat ini, saat membaca tulisan ini, saya jadi ingat ayahanda yang jauh di kampung… namun tidak dengan kenangan indah.. but i realize that i should Love Him. keep writing…
    umur tidak sepanjang dunia maka kekalkanlah dengan tulisan
    @_@

    Reply
  • 2. Bakhrian syah  |  March 14, 2007 at 12:07 pm

    Kita baru akan lebih menyadari betapa berartinya seseorang dalam kehidupan kita setelah orang tersebut jauh dari jangkauan kita.

    Reply
  • 3. Tigger  |  March 16, 2007 at 5:11 am

    Amiiin…

    Reply
  • 4. Anisa  |  March 16, 2007 at 6:30 am

    Amin…mudah2an doanya dikabulkan.
    Jadi sedih nih inget Orang Tua..

    Reply
  • 5. deen  |  March 19, 2007 at 2:47 am

    Wah jadi ketahuan klo dulu k’ilo tnyata banna juga..hhehee..
    sip2..masih mellow sih..tp mellownya jelas bedalah dgn kemaren..;)
    Keep writing y..Semangat..! ^_^

    Ur Sist,

    deen

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Archives


%d bloggers like this: