[ajari aku…]

February 24, 2007 at 11:25 pm 7 comments

Lama tidak ketemu, saya kira kau telah berubah. Ternyata tidak. Kau masih saja keras, to the point. Tidak suka bertele-tele. Tidak bisakah kau sedikit berbasa-basi, atau memilih ejaan kalimat yang lain? Tidakkah waktu merubahmu?

Penggalan kalimatnya malam itu tajam menusukku. Telak. Di ruang tamu yang ramai, bibirku masih tetap membentuk lekukan senyum yang sama. Tarikan sudut yang pernah dengan sangat perlahan disampaikan oleh seorang yang di suatu putaran sejarah pernah dekat bahkan sangat akrab, -susah untuk ditafsirkan-.

Aku punya alasan, mengapa aku melakukan ini semua.” Hanya itu yang sempat kukatakan.

— — — — —

Sungguh, jujur kukatakan kepadamu wahai engkau para perempuan. Aku adalah manusia yang sangat kagum pada sosokmu. Pada kesempurnaan penciptaanmu. Pada kelembutan, kasih sayang, cinta, kehangatan, struktur emosional, keluwesan, perhatian besar, dan ketelitianmu sampai hal-hal kecil yang kadang dianggap sepele oleh kaum adam.

Aku tahu meskipun mungkin belum terlalu paham, kau tidak terlalu butuh dengan keakuratan fakta-fakta. Ketelitian sebuah bahasa yang logis dan mendetail yang bisa disampaikan dengan sangat mudah oleh laki-laki. Atau argumentasi hebat dalam sebuah forum diskusi.

Aku tahu meskipun [sekali lagi] mungkin belum terlalu paham. Perhatian, jaminan rasa aman, ungkapan lembut yang berarti, perlindungan, adalah hal yang bisa menentramkan hatimu.

… Aku pernah begitu perhatian di suatu putaran masa di waktu lalu. Mempraktekkan semua teori komunikasi yang kumengerti dari hasil bacaan dan interaksi langsung. Dan alhamduliLlah, lingkungan pergaulanku menjadi diameter tak berlimit. Akrab sampai ke lingkaran keluarga sekalipun Sampai saat itu mulai nyata. Ketika sebagian mereka tak lagi canggung untuk menyentuhku. Banyak yang mulai bertingkah makin aneh.Dan aku mulai resah, bahkan marah. Sungguh, ungkapan kalimat, surat, sms, atau telfon mungkin masih bisa kutolerir. Namun, memelukku dari belakang secara tiba-tiba atau di depan banyak orang, bagaimana semua ini harus kumengerti dengan alur idealisme yang kupegang?

Bukan…bukan sombong seperti kata kaummu ketika aku hanya merangkapkan kedua tangan di depan dada saat mengajak bersalaman atau berkenalan. Aku hanya tidak ingin menyentuh kehalusan kulit tanganmu yang aku tak memiliki hak di sana. Bukan…bukan egois ketika tidak membalas surat, sms atau tidak menanggapi percakapanmu di telfon. Aku hanya tidak ingin membuka pintu lagi agar setan bisa makin leluasa mempermainkan perasaan dalam hati kita. Bukan…bukan angkuh ketika aku menolak sentuhanmu di bahu atau lenganku. Aku hanya tak menemukan alasan yang membenarkan tindakan itu. Bukan…bukan tidak menghargai ketika aku tak menatap langsung ke bola matamu ketika berbicara, semata menghargai saja. Sebab kebeningan yang memantul di sana bukan milikku.

Namun, ketika aku memilih sikap seperti sekarang… apakah aku salah. Ajari aku kalau begitu. Tolong, ajari aku mengerti tentang perempuan. Ajari aku mengenal alur berpikir mereka. Tentang pilihan hidup yang historikal logika dan perasaannya. Ajari aku agar tak lagi membuatnya menangis. Ajari aku … … … Ajari aku… … …

— — — — —

Engkau mungkin merasa aman dengan pilihan yang seperti itu. Tapi tidakkah kau berpikir, bahwa banyak yang sakit hati dan terluka dengan tindakanmu yang seperti itu? Minimal, sikapmu kepada istrimu kelak tidak seperti itu.

Spontan saja aku tertawa. “Jelaslah, kalo sama istri mah lain lagi persoalannya. Insya Allah masih banyak sisi lain, yang orang lain belum tahu tentangku. Biarlah kelak, cukup istriku saja yang mengetahuinya

— — — — —

Robbi, sebegitu rumitkah memahami makhluk-Mu yang bernama perempuan?

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Maaf…aku tidak bisa (jangan memendam duka) [seandainya…]

7 Comments Add your own

  • 1. deen  |  February 27, 2007 at 9:56 am

    hemm..deen ikutan speechless euy bacanya.. intinya mah smua perlu proses, biar mereka mengerti sendiri dan melihat sendiri.
    Sbnrny sih.. bisa loh di tegor secara halus..lewat candaan misalny.. kemudian celetukin sedikit dalil, yg membela mereka tentunya, yg dasarnya utk menjaga mereka sendiri..
    Bukankah hati manusia sbnrny berfitrah pada kebenaranNYA?, mungkin aj sih respon diri tak menunjukkan respon hati..^_^.. Keep Istiqomah y akh..salut euy ma tulisanna.. 🙂
    Btw, td deen bilang speechless yak..kok jadi nulis sbnyk gene y.. 😀

    Reply
  • 2. Amorita Kurnia Dewi  |  March 2, 2007 at 1:53 am

    memang perempuan itu begitu, butuh perhatian dan kasih sayang. tapi kadang hal itu disalahpersepsikan terutama oleh mereka yang belum paham aturan-aturan agama.

    mungkin yang terbaik kita lakukan adalah berbicara baik-baik padanya, siapa tau dia melakukan hal itu karena dia memang tidak tau bahwa apa yang dia lakukan itu salah.

    anggaplah ini sebagai ladang dakwah, dan pahamilah kondisi dan ilmu objek dakwah kita. serta yang paling penting, sampaikanlah dakwah itu dengan hikmah.

    **maaf kalau terkesan menggurui

    Reply
  • 3. Tigger  |  March 2, 2007 at 4:58 am

    it’s complicated really..
    yang ilo bilang itu emang bener..
    saya aja kadang masih suka bingung sama yang namanya perempuan..

    (lhohh? saya kan perempuan yaa..?)

    hehe, intinya, ya begitu itu.. semua butuh proses lo.. saya juga pernah (atau malah sering yaa?) dianggap sombong, eksklusif, sok alim, kalo saya gak bales sms gak jelas, gak terima telfon ngawur, gak natap mata lawan bicara, gak jabat tangan, dan sejenisnya lah..

    itu mah biasa lo.. tinggal didoain aja, biar Allah membukakan hati mereka biar ngerti sama hal-hal seperti itu. selebihnya, ya kita gak bisa apa-apa lo..

    semangka lah pokonyaaa…

    Reply
  • 4. Shinta  |  March 8, 2007 at 2:56 am

    Sebagian besar perempuan mengutamakan perasaan (dalam bertingkah laku ataupun mengambil keputusan). Tapi menurut suamiku, aku tuh lebih mengutamakan logika.
    Memahami perempuan (istrinya) ternyata ga sesulit yang dia bayangkan sebelumnya. Ini pendapat suamiku lho…

    Reply
  • 5. Anisa  |  March 8, 2007 at 6:31 am

    Wah..mbak Shinta hebat ya… dah bisa mengutamakan logika..kalau diriku masih memakai keduanya..antara logika dan perasaan. Habis kadang pake logika saja gak nyambung..jadilah perasaan aku pertimbangkan..hehhehe… Begitulah wanita…susah ditebaknya Ilham…

    Reply
  • 6. Muhammad Ilham  |  March 8, 2007 at 10:04 am

    [deen]
    iya, harus ganti model interaksi dan komunikasi neh kayaknya 🙂

    [amorita kurnia dewi]
    bisa juga mbak. Tapi, untuk para ‘makhluk halus’ itu, biar akhwat2 jilbaber saja deh yang mendekatinya 🙂 Lebih aman dari fitnah,hehehe

    [tigger]
    mungkin ini ya yang kurang dari ilo? Mendoakan sih, tapi nyebutinnya secara keseluruhan saja. Muslim wa Muslimat, etc. Ga pernah nyebut satu-satu pribadi. Khawatir malah jadi penyakit hati

    Yup…still semangka 🙂

    [mbak shinta]
    Hmmmm… tergantung perempuannya kali mbak ya?

    [mbak anisa]
    wah, makin menguatkan nih mbak anisa. So, gimana ya mbak kira-kira caranya memahami wanita 😛

    Salam,
    [Muhammad Ilham]

    Reply
  • 7. Bakhrian syah  |  March 9, 2007 at 12:28 pm

    Saya suka ga bertutur anda… nampak natural dan tidak dibuat-buat… terus nge blog ya… 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

February 2007
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Archives


%d bloggers like this: