Kematian Nurani

December 7, 2006 at 6:35 am 1 comment

Entah apa yang ada dalam benak aleg DPRD kita yang melakoni aktivitas mesum dengan seorang penyanyi dangdut yang terkenal religius saat merekam adegan bejatnya menjadi sebuah video yang menggambarkan kegersangan nurani mereka akan nilai sebuah kesucian dan kebaikan. Namun yang pasti, apapun alasannya kejahatan tetaplah kejahatan yang tidak boleh ditolerir. Apalagi jika dilakukan oleh mereka yang secara konstitusi kenegaraan, seharusnya menjadi teladan bagi rakyat yang telah mempercayakan suara dan aspirasi di pundaknya.

Entah apa yang melintas dalam hati keduanya, saat aib mereka terbongkar di hadapan public. Yang dengan tenang menceritakan awal mula perkenalan sampai berlangsungnya ‘praktek kebinatangan’ yang mereka lakukan sambil sesekali mengusap air mata yang meluncur turun dari sudut matanya. Atau memohon maaf kepada masyarakat, mengundurkan diri dari jabatan publik dengan permohonan tertulis atau melalui mulut para pengacara dan juru bicaranya. Namun sejatinya, keburukan tetaplah keburukan. Seindah apapun polesan untuk membenarkannya, tetap saja secara hakiki telah mencederai nilai kemanusiaan yang murni. Melukai martabat kesucian fitrah, dan mengotori aktivitas perilaku insan yang diagungkan oleh Penciptanya dengan sebaik-baik bentuk.

Bukan…bukan menghujat atau menjatuhkan wibawa seseorang atau sekelompok masyarakat. Tidak pula mencaci maki atau mengungkapkan aib dan kesalahan orang lain. Tapi semata hanya keprihatinan diri akan kehancuran moral yang makin menghitam, mengelilingi lingkungan keseharian kita. Merangkul semua strata social masyarakat kita, dari petinggi negeri sampai gembel di emperan jalan. Seperti mendung yang menghalangi kehangatan cahaya mentari ketika hujan badai akan singgah di bumi.

—oOo—

Laqod’ khalaq’nal insaana fii ahsani taqwiim. Dan Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Demikian Al-Qur’an suci berbicara. Dengan karunia akal dan hati, yang mengangkat derajatnya melebihi semua makhluk semesta. Bahkan malaikat dan iblis, 2 makhluk yang diciptakan dari anasir cahaya dan api diperintahkan bersujud di hadapan kita (manusia) sebagai bukti keagungan yang dianugerahkan Sang Khaliq (Pencipta) kepada sosok yang dihargai dengan sebutan al-insaan.

Namun, mengapa gelar kehormatan itu justru kita tanggalkan? Malah berbangga dengan perilaku yang tak lagi memiliki perbedaan dengan binatang yang tidak dibekali dengan karakteristik akal dan nurani? Dipendam dimana perasaan malu yang menjadi perhiasan abadi iman kita? Kemudian memilih meruntuhkan tembok kemuliaan dan bersinergi dengan musuh abadi yang menjadi seteru kita sejak dahulu?

Ah… Tuhan Maha Pengampun. Bukankah ia selalu menerima taubat? Pintu ampunan-Nya seluas langit dan bumi kan? Kita kan diberi kebebasan untuk memilih, tidak ada salahnya dong…!

Tidak…tidak semudah itu kita membenarkan semua tindakan yang menjadi pilihan hidup kita. Sebab, hidup tetaplah perjuangan. Filosofi ini belum berubah. Ingatlah, status kehormatan ini kita dapatkan bukan dengan sim salabim. Tapi melalui proses yang rumit. Belajar. Ketika kita diminta oleh Sang Khaliq untuk menyebutkan semua nama benda yang ada di jagad ini, kita bisa. Dan ini karena ilham (pencerahan) yang ditanamkan Rabb di pengetahuan kita dengan proses belajar. Sebab ini adalah pertanggungjawaban. Terlebih, ajal datang tidak pernah memilih. Dalam kebaikankah atau saat diri sementara larut dalam gelimang kenistaan dosa dan maksiat.

Maka memilih antara kebaikan dan keburukan yang menghampar di hadapan kita, pilihan kebaikan haruslah tetap menempati posisi tertinggi. Jauh mengalahkan semua versi keburukan, bagaimanapun hebat dan menariknya syahwat terhadap segala keindahan dan tipu dayanya. Atau, akankah kita bungkam karena tidak mampu menjawab, saat ditanyakan status -kemanusiaan- kita di pengadilan akhirat kelak?

Ilahi…anta yaa Rahman… kebeningan cahaya nurani ini akan makin memudar. Diselimuti gelap pekat kabut angkara yang ditebarkan oleh syahwat dan kemaksiatan. Jika bukan karena hidayah, cinta dan kasih sayang-Mu, tentulah diri ini pun akan berkubang dalam kemaksiatan yang menistakan. Robb, jangan lepaskan kami dari dekapan-Mu..

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Memaknai pilihan hidup surat buat bunda

1 Comment Add your own

  • 1. Tigger  |  December 8, 2006 at 4:02 am

    Assalamualaikum,
    sebenernya kasihan ngeliatnya…
    biar gimanapun, masih sama-sama manusia..

    oke, kadang emang banyak hal gak masuk akal yang bisa dilakukan oleh seorang manusia… bahkan hal-hal kebinatangan juga bisa dilakukan..

    justru kita-kita ini, yang harus saling menjaga.
    jangan lupa, tugas utama kita adalah untuk mengingatkan, bukan menghakimi..
    tugas itu, serahkan saja sama Allah, yang paling berhak. ya kan?

    Wassalamualaikum…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

December 2006
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Archives


%d bloggers like this: