Banjir Sinjai (Go to Desa Gantarang)

July 26, 2006 at 1:53 am Leave a comment

Rabu pagi, 21 Juni 2006

Sekretariat DPW PKS Sul-Sel dan PKPU (Pos Keadilan Peduli Ummat) ramai dengan aktivitas rapat. Tema yang dibahas sama:Aksi Tanggap Darurat untuk bencana Alam di Sinjai.
Hasilnya, akan dikirim Tim Medis, Logistik, Relawan, dan pembukaan posko-posko pengungsi serta pusat rehabilitasi mental untuk para korban. Pengiriman tim dibagi menjadi beberapa gelombang. AlhamduliLlah saya diamanahkan untuk ikut dalam gelombang pertama.
Siang, sekitar pukul 14.30, Bersama 3 tim medis, Ketua P2B, Ketua PKPU Sul-Sel, Tim Media DPW dan Kepanduan, kami berangkat ke Sinjai lewat jalur Camba, coz jembatan penghubung Bulukumba-Sinjai hanyut terbawa arus banjir bandang.

Memasuki perbatasan Bone-Sinjai, cuaca mendung sudah menyambut. Langit di atas kami gelap. Angin bertiup kencang, memaksa kami menutup kaca mobil biar tidak kedinginan. Pukul 19.00, kami sampai di Sinjai, setelah sholat dan menyimpan barang di DPD PKS Sinjai, kami segera ikut aktif dalam memandikan mayat korban, mensholatinya serta membawa ke kompleks pekuburan untuk dimakamkan. Badan sudah full dgn bau kapur barus campur bau mayat, pakaian penuh dengan lumpur coz kondisi di sana memang masih hujan. Namun azzam kami sudah bulat, kami membantu sesama semata untuk mengharapkan pahala dari Atas.

Kamis, 22 juni 2006
Aktivitas kami masih sama. Sejak pagi-pagi buta selepas sholat subuh dan matsurat, evakuasi mayat kembali dilakoni. Ditambah dengan pendistribusian bahan makanan serta logistik lainnya, dan tak lupa pengobatan gratis untuk warga di daerah yang sudah bisa diakses oleh tim.

Jum’at, 23 Juni 2006
Tantangan berikutnya datang. Kami ditugaskan untuk ke desa Gantarang Sinjai Tengah. daerah yang mendapat bencana cukup parah, longsor di lebih dari 30 titik. Akses kendaraan tertutup sama sekali, dan belum ada supply relawan utuk medis, logistik dll yang sampai ke sana. Dgn bekal basmalah, kami meluruskan niat dan mulai menyusuri jalan dengan mobil sampai ke perbatasan desa Kompang. Jalan licin, sempit dan dingin karena kabut dan air hujan. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sempat juga teman-teman bercanda, bahwa jejak petualang yang kami lakukan ini lebih seru daripada Jejak Petualang yang dilakoni Riyannni Djangkaru di TV 7 Hehehe

Satu kesalahan kecil terjadi. Kami tidak membawa sepatu boot, jas hujan serta senter untuk penerangan. Namun untuk kembali ke POSKO Induk melengkapi itu semua, pasti butuh waktu lama, sementara dari laporan penduduk yang diterima, ada 3 pasien dalam kondisi kritis yang butuh penanganan cepat. Rapat singkat digelar, keputusannya perjalanan tetap dilanjutkan. So, sekitar pukul 10, mulailah tim kami ditambah 5 orang tim SAR berjalan menyusuri longsoran satu demi satu.

Lumpur setinggi lutut, pecahan batu terkadang melukai kaki, terpeleset, serta gemuruh tanah dan batu yang masih terus berjatuhan dari atas gunung mewarnai perjalanan. Kiri kanan jurang, salah melangkah, badan akan terjatuh ke lembah. Penyemangat kami hanya satu, mengenang kembali sejarah perjuangan Rasul SAW ketika menyiarkan agama ini untuk pertama kalinya. Kenangan inilah yang membuat kami yakin, bahwa kesukaran ini akan bisa kami lalui, coz ini belum ada bandingannya dgn perjuangan berat Rasul SAW dlm menyebarkan risalah ini. AlhamduliLlah, keyakinan ini berhasil membuat kami tetap melaju menuju tempat korban untuk memberikan pertolongan. Pukul setengah 12, kami singgah sholat jum’at di salah satu masjid yang masih utuh, yang berhadapan langsung dengan gunung yang pertengahannya kelihatan terbelah dari bawah.

Pukul 13.lewat, kami melanjutkan perjalanan
Sampai di longsoran ke 20, rombongan marinir tampak sedang menggali tanah untuk mengeluarkan sosok mayat yang tertimbun tanah. Kami sempat berhenti sejenak, menanyakan kondisi jalan selanjutnya. namun mereka angkat tangan. Para tentara mengatakan bahwa ini titik terjauh yang bisa diakses. Daerah setelah longsora ini masih susah untuk ditembus. So, sempat juga teman-teman berpikir untuk berhenti juga sampai di situ. Tapi seorang al.akh kembali mengingatkan akan tugas dan komitmen kita di awal perjalanan tadi, so journey must go on!!!

Sampai di batas akhir longsoran ke 21, para marinir acung jempol ke tim kami. Pesan supaya berhati-hati sempat keluar dari mulut mereka. Medan makin berat, hujan mulai turun. Air dari atas gunung meluncur turun membentuk sungai yang mengalir deras ke bawah. Jembatan darurat dari sebatang bambu mebutat langkah kaki makin hati-hati, melambat coz makin licin. Obat-obatan dibungkus ulang dengan plastik, biar tidak basah. Alhamdulillah, setelah melewati longsoran ke 27, sampai juga kami di lokasi tempat pasien yang membutuhkan perawatan darurat. magrib sudah menjelang. Padahal jarak yang kami tempuh hanya sejauh 4 km!

SubhanaLlah, rasa capek langsung lenyap melihat kondisi pasien yang sudah sekarat. Daging kepala terbelah, memanjang dari depan ke belakang memperlihatkan putihnya tulang tengkorak.

Ya Robbi, hati ini langsung bergetar, siapalah kami ini, yang jika Engkau berkehendak, pasti kami tak punya kuasa untuk menolaknya. namun mengapa benih-benih kesombongan masih saja tumbuh subur dalam hati kami?

Segera pengobatan digelar bercahayakan 2 buah lampu petromaks. AlhamduliLlah, sampai pukul 21 malam, dua psien sudah tertangani.

Rapat kecil kembali digelar, apakah tim akan turun malam itu untuk supply logistik plus obat-obatan baru ataukah nginap dan cukup mengirim info ke POSKO Induk untuk mengirim relawan lain untuk kebutuhan yang tadi? Dgn pertimbanga safety, akhirnya kami memutuskan untuk nginap. Malam kami lalui dengan berdiskusi bersama Ketua Dusun ditemani Pisang dan Teh hangat sebagai makan malam.

—————————————————–
POSKO INDUK
Pos Induk resah, tim kami belum pulang. Padahal sesuai kesepakatan, kami harus sampai di pos kembali sebelum malam. Berita yang mereka dapat, kami terjebak lumpur setinggi dada di salah satu longsoran. SMS segera beredar, sampai-sampai ustadz dari DPP PKS mengeluarkan ta’limat ke semua jajaran kader untuk mendoakan tim kami.

Syukron akhi/ikhti, untuk semua perhatian besar yang selalu kalian berikan untuk semua saudara seiman di jalan ini.
——————————————————
Sabtu, 24 Juni 2006
Setelah sholat subuh dan matsurat, sambil menunggu supply logistik dan obat-obatan yang dibawa oleh tim lain dari POSKO Induk,kami menggelar pengajian dengan mengundang semua warga dusun. SubhanaLLah, dari anak kecil sampai lansia semuanya datang. Ada hampir 40-an orang yang berkumpul di rumah tempat kami nginap semalam. Kepala Dusun ternyata masih dipercaya sama warganya, sehingga ketika usulan kami untuk mengadakan pengajian disampaikan ke beliau, beliau langsung menghubungi warganya satu-persatu selepas sholat subuh. And Then, mulailah kami berdiskusi banyak hal dengan warga mengenai masalah-masalah umum dalam agama ini. Perasaan antusias kami dapati terpancar dari wajah mereka.Bersyukurnya juga, di Tim kami ada ikhwah yang bisa bahasa ‘konjo’ sehingga warga yg tdk paham bahasa bugis apalagi Indonesia juga bisa terwadahi. Pfiuuhhh…

Thanks Ya Robb, Engkau masih memilih kami dlm barisan para pejuang-Mu untuk sama-sama berbagi pengetahuan untuk menyebarkan ajaran Dien-mu ini.

Sekitar pukul 12 siang, tim dari POSKO Induk datang. Alhamdulillah, akhirnya ada juga makanan plus susu yang masuk ke perut kami, setelah sehari semalam kemarin cuma diisi pisang 2 buah plus air teh secangkir. Setelah sholat, kami melanjutkan perjalanan. Melewati 4 longsoran, kami sampai ke tempat korban kritis ke-3. Lukanya sama dengan 2 sebelumnya. Kepala robek, sehingga membutuhkan jahitan di beberapa tempat. Alhamdulillah, selesai juga penanganan ke-3 korban kritis tadi. Sepanjang jalan sejak hari Jumat, tim kami juga sempat singgah di beberapa titik, mengobati warga yang terluka akibat bencana. Yang sempat tercatat di buku medis, ada sekitar 66 warga juga yang mendapat pengobatan.

Sore, sekitar pukul setengah 5, tim kami mulai bergerak turun, kembali ke posko Induk. Bedanya, kami sekarang sudah dibekali dengan sepatu boot dan jas hujan sehingga AlhamduLiLlah, perjalanan agak lancar. Tantangan berikutnya adalah malam mulai merambat turun, penerangan kami sangat terbatas. hanya 5 senter sementara jumlah kami plus tim SAR ada 20 orang. Sementara standar keamanan, seharusnya satu orang satu senter untuk kondisi medan demikian. Berbekal keyakinan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya, kami tetap berjalan turun, dengan kesepakatan harus mengikuti semua standar operasional safety yang dianjurkan oleh tim SAR.
Lega, setengah delapan kami tiba di POS di Desa Kompang, tempat dimana mobil sudah mendapat akses masuk. Langsung kami balik ke Pos Induk, melaporkan hasil selama 2 hari and then…..Take A Rest….

NB : Masih jelas dlm ingatan, pesan teman-teman SAR saat pisah di Desa kompang ‘Kawan, terus bergerak, perjuangan ini belum selesai’ Thanks bro, sungguh saya masih sangat ingin berdiskusi dgn kalian semua, bertukar ide, gagasan dan saling menguatkan. Meskipun ideologi yang menggerakkan kita berbeda.
Mudah-mudahan Allah SWT menggerakkan hati-hati kalian, untuk bergabung bersama di barisan dakwah ini! Amin

The Lone Samurai

Advertisements

Entry filed under: Uncategorized.

Banjir Sinjai (Preambule) Unique Angel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

July 2006
M T W T F S S
« Feb   Aug »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives


%d bloggers like this: