Setelah Hujan Sore Itu
October 24, 2009 at 8:39 am 2 comments
Sudah memasuki bilangan 10 dalam hitungan bulan ternyata. Dalam limpahan panggung jutaan bias warna cahaya. Belum putih memang. Namun sebentuk hati mulai terbentu di sana. Ruangnya mulai tertata dalam kalimat kebersamaan. Sempurna? Juga belum. Masih banyak ruang kosong, menanti dekorasi sempurna dalam desain mahabbah.
Bentangan jalan telah terpampang. Gerbang-gerbang mulai terbuka. Rindang senyum yang makin meneduhkan telah mulai terwarnai. Ingatkah dirimu dengan gambaran Edensor? Tapi mungkin naungan hijau kanopi alam lebih indah. Sederhana memang. Dengan lembutnya rumput yang jadi trotoarnya.
Mari. Kemarilah. Kita dekatkan hati kita pada kerinduan rahmat-Nya. Dekat, lebih dekat. Agar kehangatan kasih sayang-Nya semakin berberkah. Tutup sudah cela di masa lalu. Kubur dalam-dalam pada munajat do’a pengampunanmu. Pada luka yang tercipta, jadikan pelajaran untuk terus menapak maju.
Senja tak pernah bosan bertasbih. Dengan ketundukan yang tak akan letih. Dan malam yang sebentar lagi menurunkan tirainya, akan kuajak dirimu duduk di dekatku menyaksikan bintang yang bersinar di langit sana. Harapan selalu ada.
Entry filed under: sisi lain tentang cinta. Tags: .
1.
deen10february | October 27, 2009 at 11:17 am
kecil dudu tulisanna.. itu ji yg mo ku komen.. >_< piss…
2.
Tigger | November 12, 2009 at 1:50 am