Orkestra Mujahid : Jangan Sarungkan Pedangmu!
October 20, 2009 at 4:34 am 1 comment
semuanya tetap sama, untuk lelakon hidup di dunia ini. Pilihan akhir yang membedakan. Namun ini yang membuatnya bermakna, bahkan bisa senilai syurga.
ia masih muda, dan baru saja melafadzkan akad nikah pagi harinya. benar, ini adalah malam pertamanya sebagai pengantin. Semuanya indah. Dalam peraduannya bersama bidadari tambatan hati. Indah….
sayup terbawa angin, sebuah panggilan memecah malam. ‘Hayya ‘alal jihad…hayya ‘alal jihad…hayya ‘alal jihad! lantang mengangkasa.
Sontak ghirah jihadnya terbakar, tangannya meraih pedang dan perisai. ‘aku harus memenuhi panggilan itu’. ringkas kalimatnya pada sang kekasih. Tegap sosoknya menghadap medan jihad, tanpa secuil gulana meragukannya. ia melangkah pasti.
musuh datang. Ia menggebrak maju. Denting pedang menjelma nyanyian merdu di telinganya. Kilatan ujung tombak tergambar beningnya mata bidadari syurga. Rentangan busur panah, hanya makin menguatkan izzahnya untuk segera mencapai puncak segala kenikmatan yang dijanjikan Sang Nabi.
Dan senjata musuh yang menjadi jembatan perjalanan kerinduannya. Sosoknya terbaring di hamparan basah padang pasir. Air menetes dari jenazahnya yang mewangi. ‘Ia dimandikan oleh makaikat,sebab ia dalam kondisi junub ketika menyambut seruan ini’ demikian penjelasan Sang Junjungan.
Ia syahid. Gunung Uhud menjadi saksi pada sosoknya yang kemudian dijuluki Ghasilul Malaikat. Benar, mujahid ini bernama Handzalah bin Abu Amir.
Entry filed under: Uncategorized. Tags: .
1.
neo_is_bad_boy | December 23, 2009 at 6:40 am
(rock)