Jalan Pedang : Melukis Semesta
Aku ingin melukis semesta. Yang mampu memeluk semua benda angkasa dalam dekap keagungannya. Tapi bagaimana? Benakku sendiri belum memiliki gambaran nyata tentang semesta. Terlalu luas. Ataukah keluasan yang terbayang adalah wujud semesta yang hakiki?
Apakah matahari bisa mewakilinya? Terang. Cerah berpendar. Hangat dan menghidupkan alam raya. Tapi, bukankah ia hanya bintang kecil dalam gugusan bimasakti? Dan bimasakti sendiri hanya debu dari tebaran galaksi yang jumlahnya terus bertambah?
Harus kumulai dari mana goresanku? Pada pohon yang menjelmakan hutan belantara atau tetes-tetes hujan yang mencipta samudera luas? pada percikan api, gemuruh halilintar, kumpulan angin dan awan, ataukah luasan langit biru?
Ini sebabnya aku menulis. Agar aku hidup dalam perjuangan mewujudkan mimpi melukis semesta. Meski mimpi itu belum terwujud, tetap saja ia kujaga dalam fajar harapan. Sebab masih banyak pegunungan, padang rumput, sahara dan jalan yang belum kulalui. Sampai semesta itu terlukis, cerita ini tetap akan jadi kisah.
*Bermimpilah, dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu [arai, sang pemimpi]
Setelah Hujan Sore Itu
Sudah memasuki bilangan 10 dalam hitungan bulan ternyata. Dalam limpahan panggung jutaan bias warna cahaya. Belum putih memang. Namun sebentuk hati mulai terbentu di sana. Ruangnya mulai tertata dalam kalimat kebersamaan. Sempurna? Juga belum. Masih banyak ruang kosong, menanti dekorasi sempurna dalam desain mahabbah.
Bentangan jalan telah terpampang. Gerbang-gerbang mulai terbuka. Rindang senyum yang makin meneduhkan telah mulai terwarnai. Ingatkah dirimu dengan gambaran Edensor? Tapi mungkin naungan hijau kanopi alam lebih indah. Sederhana memang. Dengan lembutnya rumput yang jadi trotoarnya. (more…)
Orkestra Mujahid : Jangan Sarungkan Pedangmu!
semuanya tetap sama, untuk lelakon hidup di dunia ini. Pilihan akhir yang membedakan. Namun ini yang membuatnya bermakna, bahkan bisa senilai syurga.
ia masih muda, dan baru saja melafadzkan akad nikah pagi harinya. benar, ini adalah malam pertamanya sebagai pengantin. Semuanya indah. Dalam peraduannya bersama bidadari tambatan hati. Indah…. (more…)
Keindahan bukan hanya milik pelangi
Pada panas cerah di langit siang, ada kekuatan tekad di sana. Akan makna perjuangan yang tak pernah berhenti di sini. Jasad berpeluh darah dan mata yang terjaga pada perang di jalan-Nya menjadi lebih indah dibanding malam pengantin. Ada keyakinan pada keikhlasan niat. Sebab ada syurga di ujung sana.
Pada simfoni kesunyian malam, ada nada kerinduan angin di sana. Akan ukhuwah yang tak retak oleh perselisihan. Ikatan yang lebih murni dibanding pertautan darah. Hati yang berpadu dan berhimpun, semata untuk mahabbah (cinta) pada Allah swt. Bersatu. Menopang yang lemah dan rapuh, berlomba dalam mengejar amalan syurga. (more…)
